Home Berita Utama Fachrul Razi : Masalah Literasi dan Global di Dunia Itu Sangatlah Buruk...

Fachrul Razi : Masalah Literasi dan Global di Dunia Itu Sangatlah Buruk Untuk Urutan Negara Kita

140
0
Fachrul Razi : Masalah Literasi dan Global di Dunia Itu Sangatlah Buruk Untuk Urutan Negara Kita. (Fauzan/Alja)

Advokasirakyat.id | Banda Aceh – DPD RI Asal Aceh Fachrul Razi, M.I.P Pendiri Sekolah literasi dengan penuh khidmat dan bijaksana pada kegiatan kuliah Umum dan Kuliah literasi yang di penuhi oleh pserta mahasiswa UIN Ar-Raniry.

Dirinya senang bisa berjumpa kembali dengan para kader calon penulis dan jurnalis Aceh yang sekarang bergabung dengan salah satu wadah literasinya itu. Senator Aceh, mengatakan bahwa dampak buruk dari literasi anak Aceh sekarang jauh lebih tertinggal dari daearah lainnya yang ada di indonesia. Semangat positif dalam berliterasi harus kita anugrahkan kepada para kader yang berprestasi, Jum’at (03/01/2020)

Terkadang, para calon penulis di sini ingin berkarya dengan novel, cerpen, buku maupun penulisan berita opini, feature dan langsung. Kita selaku para pengurus siap mempublikasi karya para siswa sekolah literasi ini.

“kegiatan sekolah literasi ini sengaja di buat lagi jilid kedua agara para siswa dan mahasiswa bisa termotivasi dan giat terus dengan menulis dan membaca khsus untuk anak Aceh”, Masalah literasi dan Global di dunia itu sangatlah buruk untuk urutan negara kita. Makanya kita butuh sekolah literasi untuk memulihkan keadaan minat baca dan menulis normal kembali.

Minat Baca Generasi Aceh Lemah, Sekolah Literasi Adakan Kuliah Umum Kali Kedua. (Alja)

Kita harus membangun jembatan literasi atas kesadaran penuh orang yang mau saja terhadap kebaikan. Bukan kita tunggu pergerakan pemerintah itu semua tidak bisa dijamin dalam bidang literasi. Kalau lembaga dan intansi tidak paham dan tidak suka ya mereka tidak mau melakukannya, sia-sia saja kita menunggu.

Fachrul Razi juga meluruskan penyimpangan dari dana otsus itu sudah ada dalang di dalamnya. Maka dengan hal untuk kesejahteraan rakyat tidak 100% bisa terlaksana akan tetapi hanya sekita 20 atau 30% saja yang di capai, selebihnya dana triliunan di habiskan untuk kepentingan pokok pemerintah.
Bisa kita jangkau dari pembelian pesawat sebanyak 163 M dan 100 M untuk kepentingan mobil mewah untuk pejabat melalui dana otsus dari pusata sebanyak 8,6 Trilliun.

Stress masyarakat serta kemiskinan terus tinggi di negeri kita karena hal penyimpangan ekonomi itulah yang masih merajalela. Proses antusias sekolah literasi inilah yang akan membawa dan melahirkan generasi Aceh yang cerdas, kritis dan bijaksana dalam menaggapi isi yang booming.

“contohnya saja sekarang lewat tulisan di media dan korang bisa kita rasakan banyaknya manipulasi dan rekayasa yang dimuat hanya dengan tujuan kepentingan semata. Melalui informasi politik, ekonomi dan kriminal jelas lebih estream naik ratingnya ketimbang edukasi, pendidikan dan sosial”, kata senator asal Aceh ini yang kerap disapa Senator Garis Keras.

Ia juga mengumumkan bahwa media, internet, aplikasi, teknologi itu sekarang yang buat kebanyakan orang Amerika dan China. Dua negara tersebut sekarang sangat dashyat terjadinya persaingan global. Dengan media dan berita mereka bisa meluncurkan peluru setingan yang histeris di kancah internasional sehingga keterburukan daya kritis kita dalam menanggapai berseru dengan keanehan dan janggal. Inilah yang sedang dimainkan oleh politi dua negara ekonomi kapitalis di dunia.

“Hobilah wahai anak Aceh berliterasi sejak sekarang kita jangan di giring kepada kontroversi dan perbadan barat yang tidak baik. Kita orang Islam berpotensi dengan kecerdasan dan memiliki norma etika yang bagus. Mari kita menulis apa yang kita ketahui, jangan hanya di simpan di kepala tidak pernah di sebarkan. Ilmu itu harus di aktualisasi”, tegasnya.

Di masa akan datang kita akan menyaksikan bahwa media cetak akan ditutup. Karena persoalan kemajuan dunia sudah begitu canggih pada segi revolusi industri 4.0 sekarang. Dampak kemajuan sekranaang banyaknya orang sudah memiliki newspaper dan magazine. Oleh karena itu generasi milenial Aceh harus maju selangkah demi selangkah dalam berliterasi media serta menguasai.

Perkembangan media begitu cepat, dulu kita memerlukan waktu untuk mengkases informasi tetapi jaman modern sekang cukup dengang tombol enter di hp yang modal kuota bisa dalam detik dan menit kita kases informasi terkini. Suka bagian ekonomi, politik dan pendidikan silahkan akses asal setiap mahasiswa harus kritis dengan apa yang dibaca dan ditirunya.

Dalam materinya, Fachrul Razi menuangkan keburukan sikap orang sekarang dengan media. Terlalu dibodohi oleh media massa dengan hanya membuang waktu belajar karna asik nonton film dan sinetron tidak berpendidikan. Tanpa sadar kita sudah menelan virus berbahaya untuk menunda kesuksesan pribadi. Sebanyak-banyaknya orang nonton tayangan itu maka setinggi itulah gaji yang diperoleh oleh televisi.

Jadi media massa itu akan menampilakan apa yang disukai oleh khalayak. Celakanya media banyak membawa dampak yang negatif.
Terkikis moral dan karakter anak muda Aceh jaman sekarang dengan masalah tontonan yang tak mengedukasi kepada konten posistif. Melalui media anak-anak mengenal perbuatan pacaran, kriminal, narkoba dan lain sebagainya. Inikan dampak negatif yang tanpa sadar kita tiru dengan kondisi buruk kedepan.

“ Di Indonesia banyak media yang dipimpin oleh satu orang dengan pertempuran yang sama. Inilah bentul kerjasama yang mereka atur. Baik dari media massa, cetak, bahkan online juga ikutan dalam wadah perolehan kepentingan. Nah kita, hanya konsumen yang bergurau tanpa umpan balik”, tuturnya.

Era kombinasi media sedang bertempur antara pro dan konta. Buktinya aja kita lihat fakta di pemilihan kandidat kemarin. Melalui belajar literasi kita dapat kritis membaca gerak gerik media kemana ara dan tujuannya.

Keuntungan dan setingan jelas lebih mendalam di paparkan dari satu hingga ke yang lain. Kita lirik dari indonesia banyak budaya dan wisata yang belum di tayangkan. Itu semua karena media tidak mau hal tayangan seperti itu yang memperoleh keuntungan sedikit. Di Aceh juga banyak masih tempat wisata, seperti sabang, pulau weh, pulau banyak dan kuliner tradisi belum habis di tayangkan. Inilah adanya kejanggalan dan ketidakperhatian media serta belum kritis.

Peradaban media tertata dengan tajam dan konsentrasi atas apa yang mereka kejar. Biarbagaimanapun lihatlah para caleg bulan yang lalu, menang dengan salah satu promosi media massa, cetak dan online. Kalau hanya kampanye terbuka sekarang mana bisa menang caleg.

Asumsi dan rekayasa sosial yang di ciptakan oleh pemerintah hingga di muat media inilah bahan yang kobong kita terima sekarang. Kecerdasan literasi dan rasa ingin tahu kita yang dapat menerbitkan harapan kunci penunjuk arah yang benar.

Lanjutnya, seperti pemerintah membeli pesawat atau kaya kemarin demo. Maka dengan isu ini bisa di rekayasa sosial untuk meresahkan warga masyarakat terhadap tidak kuat daya literasi media dan informasi.

“hari ini isu beasiswa dengan 100 aksi, sebelumnya isu beli pesawat, persoalan itu di Aceh cepat di branding oleh media serta di goreng. Makanya kita jangan ikutan dengan isu samar-samar itu, setidaknya kita bisa menulis isu untuk melawan keresahan itu dengan pandangan menarik dan kreatif lagi”, jelas senator Aceh.

Sementara itu, beliau juga mengingatkan kepada siswa sekolah literasi untuk gemar menghadapi dan tanggapi isu yang tercecer di dalam masyarakat luas. Sudah sewaktunya mahasiswa berpikir kritis dan menelaah media itu dengan ilmu pengetahuan yang cerah tinggi.
Solusinya dengan hadir sekolah literasi kita bisa menjadikan ini tempat endalami ilmu literasi yang lebih jauh lagi. Agara kita sebagai mahasiswa Aceh tidak tertipu dengan permainan media.
Masalahnya sekarang kita harus cerdas mengkritisi media jangan hanya ikutan menggoreng kabar hoax serta juga rekayasa. Jadi media massa itu adalah sekolahnya, jurnalis itu gurunya dan publik itu siswanya. Bertubi rintangan apa saja tulislah untuk kebersamaan saling tolog menolong.

Di akhir, DPD RI ini juga mengharapkan kader dan alumni sekolah literasi bisa sukses di bidangnya masing-masing serta gemar terus berliterasi. Semua kalian akan menjadi orang hebat apabila niat, usaha dan doa yang baik selalu di bacakan.

“Nilai-nilai media itu ialah adanya sebuah perjuangan untuk masyarakat, bersifat independen, profesional, konsisten, teliti serta harus apatis dan kritis untuk tuangan informasi”, tutup pendiri Sekolah Literasi. (Fauzan/Alja)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here