Home Berita Utama Sekolah Literasi Jilid II diramaikan Oleh Calon Jurnalis dan Penulis Muda Aceh

Sekolah Literasi Jilid II diramaikan Oleh Calon Jurnalis dan Penulis Muda Aceh

227
0
Sekolah Literasi Jilid II diramaikan Oleh Calon Jurnalis dan Penulis Muda Aceh. (Fauzan)

Advokasirakyat.id | Banda Aceh– Sekolah Literasi Jilid II menyelenggarakan Kuliah Umum dan Kuliah Literasi di Aula Pascasarjana UIN Ar-Raniry, Jumat (3/01/2020).

Dalam kesempatan kedua ini, sekolah literasi turut menghadirkan juga senator Aceh yang juga acara bulan kemarin turut hadir juga yaitu pimpinan sekolah literasi yaitu bapak Fachrul Razi, M.I.P dan sekaligus pimred RMOL (Republika Media Online) bapak Ruslan Tambak.

Kegiatan seperti ini banyak mendapatkan Apresiasi dari mahasiswa yang bergabung di dalamnya dan dari alumni sekolah literasi puluhan memenuhi aula pascasarjana. Dengan sambutan ketua panitia, Muhammad Ridha meluruskan segala terima kasih dan syukurnya ata kehadiran tamu dan alumni jauh lebih banyak dari acara sebelumnya.

Ia juga memberikan laporan bahwa kegiatan ini kita adakan untuk memotivasi para penggiat dan kader muda mahasiswa Aceh dalam memutar balikkan keadaan literasi secara menyeluruh baik. Program ini akan kita kembangkan bersama kedepan dalam upaya penumpasan malas membaca, menulis dan diskusi yang sekarang kita lakukan dalam pembenahan yang tajam. Maka dengan cerminan kapasitas inilah dapat membantu literasi Aceh.

Selaku Koordinator pengurus sekolah literasi Aljawahir, S.Sos mengungkapkan faktanya sejauh ini dunia sudah maju anak Aceh masih malas membaca dan menulis. Jika kita lihat dari peringkat dunia indonesia masuk urutan ke 62 ketinggalan literasi dunia. Maka dengan dampak yang positif sekolah literasi dengan dukungan kita semua dapat membawa berkah dan cerdas di masa yang kana datang untuk anak Aceh khususnya.

Koordinator Sekolah Literasi Memberi Sambutan Pembukaan. (Fauzan)

Alja juga berterima kasih kepada pimpinan sekolah literasi bangnda Fachrul Razi dan pak Ruslan yang telah hadir dan memiliki niat sangat baik untuk memperbaiki sistem literasi anak Aceh di zaman sekarang. Ia berani menjelaskan perihal Fachrul Razi bersama timnya yang sudah berhasil melakukan gebrakan besar dari tahun 2015 hingga sekarang itu mencapai 7000 orang penggiat berhasil di gabungkan dalam tekad dan niat yang satu untuk kebaikan melalui Sekolah Pemimpin Muda Aceh.

“Sejauh ini sudah ada 1000 kader yang menulis pada bimbingan sekolah tersebut serta kita ada juga wadah media untuk di publikasi berita hasil karya siswa sekolah literasi dan Alumni”, ungkap Alja.

Wadah ini akan kita gemparkan untuk kemajuan bangsa Aceh sebagaimana jarak dengan membaca serta menulis tidak akan membuat kita hal yang janggal lagi. Oleh karena itu target kedepan mari kita kepung perpustakaan seringlah kawan dengan buku, membacalah buku sebanyak-banyaknya, menulis apa yang engkau suka, serta jangan lupa diskusi terus lanjutkan aksimu, tegasnya.

Sebagai pesan kepada kader sekolah literasi dirinya memaparkan peribahasa ala pepatah endatu Aceh “Jak Beut bek ta peungeut gob dan jak sikula bek di penget le gob” ( dengan mengaji kita tidak membohongi orang dan dengan sekolah kita tidak akan dibohongi oleh orang).

Abangnda juga menasehati generasi muda literasi Aceh dengan petikan “Dunia ini kita tuntut mungkin akhirat yang kita tuju, sehebat apapun literasi kita jika sholat tidak ada maka hidup sia-sia dan sehebat apapun kita beribadah, jikalau literasi orang masih kita hina maka iman juga akan binasa”, tambahnya.

Senator Aceh Fachrul Razi M.I.P memberikan pencerahan terhadap calon literasi wadah yang didirikannya ini harus solid dan maju sebagaiman pergerakan teknologi sekarang. Anak Aceh tidak boleh malas, kita harus cerdas seperti leluhur kita dahulu dalam melawan penjajah dari pinggi laut hingga di permukaan daratan.

Bergegas untuk memajukan literasi Aceh menjadikan program sangat penting juga untuk kemajuan bangsa. Karena 5,6 juta jiwa di Indonesia buta huruf sebanyak ini bagaimana cara mengatasi jika tidak ada wadah belajar seperti sekolah literasi. Kalau kita lirik Aceh belum begitu berubah dikarenakan juga minat pembacanya 0,01%.

“Dari sekian ribu orang yang suka membaca hanya satu orang saja lainnya sibuk dengan gedget maupun game online. Daya buruk ini harus kita optimalkan dengan cepat supaya posisi global angka yang jauh tidak menurun lagi. Minat baca buku maupun artikel atau berita itu sangat rendah, yang banyak berlomba baca itu kalau bukan buku bank ya status intagram dan whatshap”, jelas senator Aceh.

Celakanya akibat tidak diperhatikan dengan penuh oleh pemerintah literasi Aceh sekarang mengalami kritis dan tidak jelas. Celakanya anggaran 8,6 Trilliun Otonomi Khusus masih ada juga sekarang rakyat dan masyarakat Aceh yang mengalami buta huruf secara massal.

Hal itu sangat booming sekarang terjadi dengan setingan lain oleh pemerintah. Padahal 100 milyar mobil mewah dan 163 untuk pesawat itulah masalah yang sekarang tidak masyarakat Aceh ketahui.
Setingan maupun pemberian yang sedikit untuk orang kurang mampu dan dhuafa inilah penutup mulut yang handal dilakukan. Kita asik terima saja apa yang dikasih padahal jika di cek masih banyak hak masyarakat Aceh di sembunyikan tanpa data yang samar-samar, tandasnya.

Fachrul Razi juga memberikan kejelasan program kedepan yang diusung dalam bimbingan sekolah literasi yaitu ada literasi bahasa, literasi digital, literasi digital dan media, literasi jurnalistik, literasi edukasi, literasi budaya dan literasi kebangsaan.

Hari ini kita menjadi mahasiswa harus bisa membaca isu apa yang terjadi dan cara menyikapi dengan kritis jangan ikut-ikutan dengan apa yang sudah orang paparkan. Membaca dengan penuh seni dan makan begitupun menulis jangan asal bunyi tapi coba utarakan tulisan yang bermutu bisa menggeparkan dunia.
“dulu saya menulis kalau tidak di sandra sama polisi tidak puas apa yang saya tulis. Maka dengan itu kita sama-sama belajar untuk bisa menulis dan diskusi serta bisa mengamalakan dan mengajarkan untk generasi Aceh kedepan”, tuturnya.

DPD RI asal Aceh juga berharap kepada calon dan alumni sekolah literasi untuk setia belajar dan memiliki sikap yang optimis dalam bekerja sama untuk mewujudkan literasi Aceh kepada dampak lebih positif dan aktif kembali. Disini kita akan lebih menuntaskan rekayasa tulisan koran, medsos, dan media massa. Nilai-nilai pendidikan harus kita nomor satukan jangan hanya hiburan saja yang di targetkan.

Sementara itu Pimred RMOL.id Ruslan Tambak juga menyalurkan pengalamannya kepada anak Aceh untuk senang bercita-cita dan mimpi besar. Melalui pengalaman sewaktu ia sekolah dirinya suka membaca koran dan buku. Dari situlah keberhasilan sekrang bisa menjadi kepala media ternama di indnesia.

“dulu saya selesai s2 di jakarta di ajukan oleh kepala prodi untuk menjadikan dosen, tapi saya menolak dan saya lebih menyukai jadi wartawan. Niat dan kerja yang baik akan memberikan dampak positif bagi masyarakat. Jurnalis harus bersikap kasih sayang dan menulis berita yang fakta akurat”, tutupnya.

Acara ini turut di hadiri oleh para jurnalis muda Banda Aceh yang mengembangkan bakatnya di sekolah literasi serta beberapa aktivis kampus dan juga mahasiswa dan alumni sekolah literasi. (Fauzan/Alja)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here