Home Agama Terowongan Silaturahmi Hanya Toleransi Basa-Basi

Terowongan Silaturahmi Hanya Toleransi Basa-Basi

301
0
Terowongan Silaturahmi Hanya Toleransi Basa-Basi. (ucie Siregar)

Oleh : Ucie Siregar (Aktivis Muslimah Peduli Negeri)

Advokasirakyat.id | Rencana pembangunan terowongan Masjid Istiqlal-Gereja Katedral disambut baik oleh wakil kepala Humas Masjid Istiqlal, Abu Hurairah. Nantinya, terowongan tersebut diproyeksi bakal menjadi ikon toleransi dan kerukunan umat beragama di Indonesia. Dia mengatakan ikon toleransi di Indonesia memang diperlukan. Dia juga menyebut, rencana pembangunan terowongan yang dinamai Terowongan Silaturrahim ini akan masuk dalam tahap kajian detail. “Terowongan itu nanti bisa jadi ikon toleransi di Indonesia,” kata Abu. (Republika.co.id, 07/02/2020).

Sementara itu, ketua umum MUI Jatim, KH. Abdusshomad Buchori menolak rencana tersebut, dia mengatakan proyek tersebut tidak ada gunanya. “Negeri ini sudah banyak masalah, jangan ditambah lagi”. Somad juga mengatakan orang Islam yang baik ialah orang yang bisa meninggalkan hal tidak berguna. Proyek terowongan silaturahmi tersebut hanyalah ajang pemborosan dan bisa menjadi sumber masalah baru, ujarnya. (detik.com, 17/2/2020).

Perlukah Terowongan Silaturahmi?

Masalah toleransi cukup mendapat perhatian di pemerintahan Jokowi dibandingkan masalah lainnya. Padahal masih banyak masalah yang lebih serius di negeri ini yang harus disikapi dengan bijak dan membutuhkan penyelesaian dengan sigap ketimbang masalah toleransi.

Mulai dari kesenjangan ekonomi, kemiskinan struktural, pengangguran massal, korupsi, hingga liberalisasi moral generasi yang kian parah, namun seakan lamban disikapi oleh pemerintah. Jikalau terowongan itu penting untuk menghubungkan Masjid dan gereja dan menjadi ikon toleransi antar umat beragama, seharusnya membangun peradaban dalam kehidupan masyarakat yang didalamnya hidup berbagai agama dengan menjaga akal, aqidah, kehormatan hingga memenuhi segala kebutuhan hidup rakyat secara manusiawi justru jauh lebih penting.

Hari ini tidak sedikit kita temukan jembatan gantung dibeberapa daerah wilayah Indonesia yang rusak parah, jembatan yang ala kadarnya itu sehari-hari digunakan oleh masyarakat. Setiap harinya mereka melintasi jembatan tersebut dengan taruhan nyawa. Bukan mustahil mereka jatuh ke sungai dan menjadi korban. Padahal jembatan rusak itu menjadi sarana penting yang sangat mereka butuhkan, menghubungkan sekolah anak-anak mereka dengan tempat tinggalnya, tempat kerja dimana mereka mencari nafkah, menghubungkan satu kampung dengan kampung lainnya dan segala aktivitas lainnnya harus melewati jembatan gantung dengan pengaman ala kadarnya.

Disatu sisi terdapat gedung-gedung pencakar langit, rumah mewah, bangunan dan infrastruktur yang berjejer di pusat ibukota. sementara disisi lain tidak sedikit bangunan-bangunan kumuh yang ditempati rakyat terpampang didepan mata.

Dengan demikian, apalah arti terowongan silaturahmi, jika masih banyak ketimpangan ekonomi yang menyelimuti masyarakat negeri ini. Rakyat membutuhkan sikap nyata dan kebijakan tepat yang dapat mengakomodasi kebutuhan vital mereka, bukan kebijakan kapitalistik yang memuluskan proyek-proyek atau infrastruktur milik para kapitalis. Jika terowongan tersebut tetap didirikan, para kapitalislah yang akan meraup untung besar dari bangunan yang memakan biaya ratusan milyar ini.

Selain itu, tercium aroma liberalisasi agama dari proyek tersebut. Menghubungkan Masjid dan gereja melalui terowongan seolah ingin menunjukkan wujud keberpihakan pemerintah terhadap pluralisme. Padahal pluralisme merupakan ide kufur yang bathil yang harus dijauhi.

Sebagai seorang Muslim harusnya menyadari betul konsekuensi dalam beragama. Tidak ada paksaan dalam beragama merupakan ajaran Islam, namun memandang semua agama benar (pluralisme) merupakan kekufuran. Karena Allah SWT telah menjelaskan dalam firmanNya, sesungguhnya agama yang diridhoi disisi Allah SWT hanyalah Islam.

Dari kebijakan liberalistik ini tentunya akan disusul dengan kebijakan liberal lainnya. Mungkin hari ini terowongan yang menghubungkan Masjid dengan gereja, bisa jadi proyek selanjutnya terowongan penghubung Masjid dengan Vihara, Mesjid dengan Pura, Klenteng dan sebagainya.

Semua ini kebathilan yang harus dijauhi oleh umat Islam. Mencampuradukkan antara Islam dengan kekufuran adalah bentuk kesesatan aqidah. Sama artinya mencampur adukkan antara haq dan yang bathil, yang semua ini akan diganjar siksa dan dosa dihadapan Allah SWT.

/Islam Mengajarkan Toleransi Hakiki/

Jikalau Jokowi, DPR dan sebagian pihak mengharapkan toleransi dan menjaga kerukunan antar umat beragama, cukuplah ajaran Islam yang menjadi contoh masalah tersebut.

Ajaran Islam begitu sempurna mengajarkan arti toleransi secara hakiki. Firman Allah SWT :

قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ (1) لَا أَعْبُدُ مَا تَعْبُدُونَ (2) وَلَا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ (3) وَلَا أَنَا عَابِدٌ مَا عَبَدْتُمْ (4) وَلَا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ (5) لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ – 6

Artinya: Katakanlah: Hai orang-orang kafir. Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku. (Q.S. al-Kafirun: 1-6).

Begitu juga dalam firmanNya yang lain :

لا إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ قَدْ تَبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِنْ بِاللَّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى لا انْفِصَامَ لَهَا وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ
Artinya: “Tidak ada paksaan untuk memasuki agama Islam Sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada tali yang amat kuat (Islam) yang tidak akan putus. dan Allah Maha mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah : 256).

Maka, sudah seharusnya pemerintah menyadari toleransi hakiki sebagaimana Islam mengajarkan, toleransi yang tidak mencampuradukkan satu agama dengan agama lainnya, baik itu tempat ibadah dan simbol-simbol agama lainnya. Bukan toleransi basa basi dengan membangun terowongan yang hanya membuang-buang uang negara yang seharusnya bisa dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan dan kepentingan rakyat secara tepat.

Terowongan silaturahmi hanya ikon dan simbolis semata tidak akan berpengaruh secara signifikan bagi rakyat, malah akan menghantarkan rakyat Indonesia yang mayoritas Muslim ini kepada kesesatan aqidah yang beraromakan liberalistik.

Cukuplah Islam sebagai petunjuk dan sebagai pemberi pelajaran bagi orang-orang yang berpikir.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here