Home Berita Utama Cemas dan Khawatir di Tengah Pandemi Covid-19

Cemas dan Khawatir di Tengah Pandemi Covid-19

480
0
Fidiah Amnitami (Mahasiswi Psikologi UIN Ar-Raniry)

“Kecemasan Hingga berbagai macam bentuk kekhawatiran dan masalah yang di alami masyarakat ditengah  pandemi Covid-19”

AdvokasiRakyat.id | Dunia dalam beberapa bulan ini terus bersimbah duka di karena kan jejak pandemi covid diperkirakan belum menemui titik terang hingga hari ini. Korban positif menderita corona di beberapa negara yang ditanggar dengan “red zone” belum menemui titik akhir dan terus bertambah seiring berjalannya waktu, bahkan himbauan lockdown tidak menjamin akan adanya pengurangan korban, walaupun tidak sedikit juga yang sudah sehat dan dinyatakan bersih dari virus tersebut.

Pemerintah terus berupaya dan semampunya membantu mengatasi pandemi ini dengan mengajak masyarakat untuk bersama-sama membantu dan memerangi pandemi ini dengan himbauan untuk menetap dirumah dan bekerja dirumah. Namun tentu pandemi ini tidak semua itu disingkirkan sehingga menimbulkan banyak kendala dan masalah baru yang timbul dimasyarakat.

Di Indonesia sendiri banyak masalah yang terjadi selama covid-19 ini merajalela dilingkungan kita, timbulnya masalah berupa kecemasan yang bisa-bisa menganggu psikologis masyarakat hingga mengalami psikosomatis. Anggota Ikatan Psikolog Klinis Emeldah menjelaskan soal munculnya gangguan psikosomatis dalam menghadapi wabah virus corona. Penyakit psikosomatik berasal dari stres emosional dan bermanifestasi dalam tubuh sebagai rasa sakit fisik dan gejala lainnya. “Ketika kita stres, kan kita psikosomatis juga, jadi kita bingung, ini kok aku sesak, ngerasa sesak, padahal kan bisa jadi sesak itu karena cemas,” ungkap Emeldah saat konferensi pers di Graha BNPB, Jakarta Timur, Minggu (28/3/2020).

Maka dari itu penting untuk mengetahui gejala penyakit Covid-19. Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC) menyebutkan, gejala Covid-19 yang muncul 2-14 hari setelah paparan adalah demam, batuk, dan sesak napas. Selain itu, penderita juga bisa mengalami kesulitan bernapas, nyeri atau tekanan yang menetap di dada, dan bibir atau wajah kebiru-biruan. Emeldah mengungkapkan, pandemi Covid-19 yang melanda seluruh dunia otomatis menimbulkan ketidakpastian dan ketakutan. Hal itu dapat berimbas pada kesehatan mental hingga memunculkan rasa cemas. Kecemasan tersebut dapat menimbulkan gejala seperti rasa gelisah, sulit tidur, hingga sulit mengendalikan emosi. Kendati demikian, gejala tersebut dinilai sebagai reaksi yang normal. “Jadi sebenarnya dengan semua gejala-gejala itu, kalau menurut kami, adalah situasi yang normal. Jadi itu adalah respon yang normal di kondisi yang tidak normal,” ucapnya. Dalam hal ini banyak masyarakat yang masih termakan beberapa kabar hoax mengenai covid ini, dalam hal ini bainya pemerintah juga membantu me-reduce berita tidak benar ini agar mengurangi kekhawatiran di masyarakat. Kelangkaan tenaga medis beserta alat medis juga menjadi kendala dalam penanganan.

Selain kecemasan yang terjadi dimasyarakat, kendala belajar mengajar baik itu jenjang pendidikan sekolah dasar hingga bangku kuliah mengalami hambatan. Walaupun telah disiasati dengan sistem pembelajaran online, hal tersebut tidak cukup membantu dan pemerataan pembelajaran di beberapa daerah di indonesia juga terbatas, bahkan karena pandemi Ujian Nasional atau UN 2020 resmi ditiadakan. Hal ini dilakukan demi pencegahan penyebaran virus corona yang menyebabkan Covid-19. Penghapusan UN 2020 ini juga hasil kesepakatan antara DPR dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud). “Dari hasil rapat konsultasi DPR dan Kemendikbud, disepakati bahwa pelaksanaan UN SMP dan SMA ditiadakan untuk melindungi siswa dari Covid-19,” ujar Ketua Komisi X DPR Syaiful Huda dalam keterangannya di Jakarta, Selasa (24/3/2020).

Selain itu, keputusan peniadaan UN 2020 merupakan keputusan Presiden Joko Widodo atau Jokowi. Keputusan tersebut diambil Jokowi untuk mencegah penyebaran virus corona Covid-19. Bagi para mahasiswa tingkat akhir di berbagai daerah juga banyak masalah selama pembelajaran online, baik itu dalam ketrbatasan kuota internet, jaringan yang tidak memadai dan sebagainya. Kegiatan KKN  yang merupakan pra-syarat untuk kelulusan juga disiasati dengan melakukan kegiatan selama dirumah, ada juga yang sebagian terjun kemasyarakat melakukan kegiatan tertentu dengan syarat harus terus menjaga protokol kesehatan yang sudah ditentukan. belum lagi bulan kemarin berita beredar bahwa 530 ribu data password dan detil akun aplikasi Zoom, software rapat online, telah diperjualbelikan hacker di Dark Web, bagian tersembunyi dari internet yang memerlukan software khusus untuk mengaksesnya.

Kebocoran data ini pertama kali ditemukan oleh perusahaan keamanan online Cyble. Peningkatan jumlah akun Zoom yang dijual di Dark Web pertama kali terlihat pada 1 April dan dijual seharga US$0,002 per akun, seperti dilansir dari The Indenpendent, Kamis (16/4/2020). Zoom sendiri digunakan oleh hampir seluruh orang, tidak hanya pada bidang akademik sebagai sarana prasarana kuliah online atau pembelajaran online, maupun banyak kegiatan lainnya diluar hal akademik seperti confrence antar perusaan, dan bahkan sekedar ngobrol tatap muka dengan beberapa kolega. Hal ini juga memicuh kekhawatiran baru terkait bocornya privasi dari pengguna zoom.

Memasuki bulan ramadhan, dikarenakan adanya himbauan social dan phisical distancing justru sangat menganggu ibadah selama ramadhan, hingga sempat ada sebuah wacana  “Covid membatalkan bulan ramadhan”  tidak seperti ramadhan ditahun-tahun sebelumnya covid benar-benar meresahkan. Biasanya kita menjalani ramadhan dengan penuh suka cita dan kebahagiaan sekarang untuk beribadah ke mesjid pun ada rasa enggan, dikarenakan takut akan tertular dan semacamnya. Baru-baru ini di salah satu desa di ulee kareng (Aceh), seorang ibu diperkirakan usia 50 tahunan meninggal secara tiba-tiba, dikarenakan ketakutan yang berlebihan orang-orang jadi takut mendekati ibu tersebut, padahal setelah di lakukan pemeriksaan ternyta ibu tersebut mengalami serangan jantung. Covid sendiri, puncaknya diperkirakan akan berlangsung selama bulan mei.

Banyak pertanyaan yang muncul, “ Kapan covid ini berakhir?” jawabannya tidak ada yang bisa memastikan hal tersebut, hanya tuhan yang tahu, maka dari itu selagi dalam keadaan sehat jagalah diri dengan baik. Terus tingkatkan ibadah dan jangan lupa menegadah kepadanya-Nya, karena apapun yang terjadi itu semu kehendak yang maha kuasa.(*)

Penulis : Fidiah Amnitami 
(Mahasiswi Psikologi UIN Ar-Raniry)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here