Home Uncategorized Maraknya Beasiswa Yang Tak Kunjung Ku Dapatkan

Maraknya Beasiswa Yang Tak Kunjung Ku Dapatkan

96
0
Rahmatillah (Mahasiswa UIN Ar-Raniry)

AdvokasiRakyat.id | Jantho – Beasiswa adalah pemberian berupa bantuan keuangan yang diberikan kepada perorangan yang bertujuan untuk digunakan demi keberlangsungan pendidikan yang di tempuh. Beasiswa dapat diberikan oleh pemerintah, perusahaan atau yayasan. Semaraknya beasiswa yang diterima di berbagai universitas di Indonesia umumnya membuat para mahasiswa semakin giat meraih cita-cita, yang pada akhirnya pekerjaan juga akan mudah didapatkan.

Faktanya yang di alami oleh sebagian mahasiswa yang khususnya berada di daerah istimewa Aceh ini adalah kurangnya perhatian masyarakat akan anak-anak yang tidak memiliki kemampuan untuk melanjutkan cita-citanya. Bahkan sering terjadi di Indonesia pada umumnya dan di Aceh pada khususnya. Pengangguran semakin meningkat dari waktu ke waktu, ini di sebabkan oleh keterbatasan lapangan kerja yang tidak pernah di perhatikan oleh Pemerintah.

Kita tau bahwa dana beasiswa yang ada di Aceh ini cukup banyak, tetapi pada proses pembagiannya hanya sedikit sekali anak yang mendapatkan dana tersebut. Sangat kita sayangkan bahwa jika anak yang tidak memiliki orang tua harus bekerja banting tulang untuk meraih cita-citanya, juga untuk mencari sesuap nasi untuk kelangsungan hidupnya. Lantas bagaimana caranya kita memfungsikan beasiswa ? bukankah beasiswa harus di khususkan untuk anak yang berpretasi, dan juga anak yang kurang mampu? seharusnya anak yang seperti inilah yang harus banyak di berikan penghargaan dari pemerintah khususnya Aceh, tercatat bahwa “ wahyudin merinci pada tahun 2017 angka pengangguran di aceh mencapai 6.57 persen, kemudian pada tahun 2018 kembali mengalami penurunan menjadi 6.38 persen dan kini tahun 2019 turun menjadi 6.20 persen. Sangat di sayangkan jika pada tahun 2020 ini angka pengangguran akan semakin meningkat bukan semakin rendah.

Pembagian beasiswa hanya di peruntukkan bagi anak-anak yang masih memiliki kedua orang tuanya, atau bahkan mereka lebih berada ketimbang anak yang sangat membutuhkan. Contohnya seperti saya, saya sudah sangat merasakan hal ini.

Jadi sedikit bercerita tentang saya dan mungkin ini mewakili kisah teman-teman saya yang lainnya yang senasib dengan saya,

Ketika saya masih SD, beasiswa yang saya dapatkan itu berasal dari sekolah karena prestasi yang saya raih, ditambah dengan beasiswa dari OKI atau lebih di kenal dengan sebutan IDB dan sekarang sebutannya menjadi PKPU (yayasan yang membantu anak-anak yatim dan fakir miskin yang kurang mampu), saya mendapatkan beasiswa ini karena saya yatim, ayah saya meninggal ketika Tsunami.

Selanjutnya ketika saya MTsN masih berlangsung pengiriman uang bulanan sekitar 300 ribu rupiah hingga saya MAN, kenapa tidak dilanjutkan sampai kuliah ? karena di putuskan bagi anak-anak yang sudah menyelesaikan jenjang pendidikan di sekolah menengah atas. Saya sangat berterimakasih kepada pihak yang telah membantu saya selama saya sekolah.

Saya juga sangat berterimakasih kepada PKH ( Program keluarga harapan), yang telah membantu saya mulai ketika saya kelas 1 MAN hingga saya selesai MAN. Pemberian bantuan ini di berikan untuk keluarga yang kurang mampu dan anak-anak yang memiliki kemampuan tersendiri. Saya juga sangat senang pihak PKH memberikan apresiasi (penghargaan) kepada saya berupa bingkisan karena prestasi yang saya raih.

Pada masa kuliah saya sekarang, pengurusan untuk mendapatkan beasiswa itu sangat di persulit dan bahkan memang langsung di cancel jika tidak ada saudara atau kerabatnya yang ada di dalam yayasan beasiswa tersebut.”

Lantas kapankah Aceh ini maju ? jika pemikiran tentang pembagian beasiswa saja harus di peruntukkan bagi orang-orang yang ada ikatan keluarga? Sebenarnya beasiswa adalah dana yang di bagikan secara merata untuk anak-anak yang berprestasi khususnya, memiliki bakat dan kemampuan yang mampu merubah Aceh, anak-anak yang keluarganya kurang mampu, yatim piatu, dan sebagainya.

Seharusnya pihak yang mengeluarkan beasiswa melakukan servei lapangan terlebih dahulu, melihat bagaimana kondisi yang terjadi pada anak-anak yang sedang menempuh jenjang pendidikan.  Sangat di sayangkan jika anak tersebut memiliki kemampuan berfikir, minat belajarnya sangat tinggi namun keuangan tidak ada. Maka jika ini terjadi, dimanakah kita harus menegakkan keadilan?

Saya sangat berharap pihak yang mengeluarkan beasiswa, mohon jangan mempersulit untuk kami mendapatkan dana beasiswa, karena harga buku semakin naik, angka pengangguran semakin meningkat. Mohon kita sadari bersama, bahwa kemakmuran adalah milik kita bersama bukan milik perorangan saja. (*)

Penulis : Rahmatillah
(Mahasiswa UIN Ar-Raniry)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here