Home Berita Utama Ketua SPMA Aceh Dukung MPU terkait Fatwa Tajhiz Mayat Covid-19 Menurut...

Ketua SPMA Aceh Dukung MPU terkait Fatwa Tajhiz Mayat Covid-19 Menurut Tinjauan Fiqh

264
0
Ketua SPMA Aceh Dukung MPU terkait Fatwa Tajhiz Mayat Covid-19 Menurut Tinjauan Fiqh. (Foto:Ist)
Laporan : Aduen Alja

AdvokasiRakyat.id | BANDA ACEH – ketua Umum SPMA Aceh Misran, SH mendukung ikhtiar Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Aceh yang telah mengeluarkan fatwa tentang Tajhiz Mayat Covid-19 Menurut Tinjauan Fiqh.

Ketua Umum SPMA Aceh, Misran, SH mengatakan ini sebuah ikhtiar kongkrit yang di lakukan oleh MPU Aceh untuk menjawab persoalan keummatan mengenai penanganan Covid-19 yang sudah melanda dunia selama 6 bulan terakhir” kata Misran saat dihubungi wartawan, Minggu (26/7).

Misran menyampaikan, “setelah MPU mengeluarkan fatwa ini, harus dilakukan sosialisasi secara masif kepada masyarakat agar tidak terjadinya kesalahpahaman antara tim medis dan pihak keluarga korban”.

Misran juga meminta kepada semua pihak untuk ikut terlibat dalam proses memutuskan mata rantai Covid-19.

“Persoalan Covid-19 bukan hanya tanggung jawab pihak medis dan MPU semata, semua pihak harus ikut terlibat. Oleh karena itu, mari kita dukung fatwa MPU Aceh terkait penanganan Covid-19 khususnya di Provinsi Aceh”.

Berikut isi 11 poin yang dimasukkan dalam fatwa MPU Aceh tentang Tajhiz Mayat Covid-19 Menurut Tinjauan Fiqh tersebut :

1. Hukum Tajhiz mayat adalah fardhu kifayah meliputi memandikan, mengkafankan, menshalatkan dan menguburkan.

2. Hukum memandikan mayat yang positif Covid-19 adalah fardhu kifayah selama petugas mungkin memelihara dirinya dari terpapar virus Covid-19.

3. Hukum memandikan mayat yang positif Covid-19 adalah wajib digantikan dengan tayammum apabila petugas tidak mungkin menjaga dirinya dari terpapar virus Covid-19.

4. Memandikan mayat positif Covid-19 minimal dengan mengucurkan air ke seluruh tubuh mayat setelah disucikan najis dan menyumbat lubang-lubang yang berpotensi keluarnya cairan.

5. Anggota tubuh yang ditayammumkan adalah wajah dan kedua tangan secara langsung dengan tanah yang suci dan berdebu.

6. Mayat positif Covid-19, dalam keadaan darurat dapat dibungkus dengan kantong pengaman setelah terlebih dahulu dikafani dengan kain kafan.

7. Mayat positif Covid-19 wajib dishalatkan sesuai ketentuan syar’i sebelum dikuburkan.

8. Mayat positif Covid-19 wajib dipastikan menghadap kiblat sewaktu dikuburkan.

9. Mayat positif Covid-19 yang tidak dimandikan dan tidak ditayammumkan, maka tidak sah dishalatkan.

10. Mayat positif Covid-19 yang muslim wajib dikuburkan dengan mengikuti ketentuan syariat.

11. Tausyiah. Tusyiah yang dimaksud tersebut antara lain, pihak rumah sakit yang menangani pasien atau jenazah positif Covid-19 diharapkan untuk bekerja secara humanis dan sistematis serta bersikap adil dalam menerapkan kebijakan.

Apapun yang sudah dimusyawarahkan,kita berharap terealisasi dengan baik dan sesuai dengan hukum yang sudah dirumuskan, ini yang terpenting dan semua wajib mengikuti tanpa kecuali demi kenyamanan dan ketertiban bersama, Jelas Misran.

Aktivis suara lantang ini juga mengingatkan kepada masyarakat agar tetap waspada dan menyerahkan segala perkara itu kepada ahlinya bukan menampakkan ahli diri dalam situasi yang sangat resah ini, ikuti dan mencegah lebih baik daripada kita saling menghina yang lain padahal kita bukan siapa-siapa, demikian ungkap Misran. (AA)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here