Home Agama Spiritual dan Intelektualitas Menciptakan Manusia Yang Bermoral dan Anti Korupsi

Spiritual dan Intelektualitas Menciptakan Manusia Yang Bermoral dan Anti Korupsi

126
0
Risky Almustana Imanullah Mahasiswa Ilmu Politik UIN Ar-Raniry. (*)

AdvokasiRakyat.id | Dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara, khususnya Indonesia tidak terlepas dari norma-norma agama dan sosial. Sebagaimana disebutkan dalam pembukaan undang-undang dasar (UUD) 1945 yang berbunyi “Dengan rahmat Allah Yang Maha Kuasa….”, dan juga dalam sila pertama disebutkan “ketuhanan yang Maha Esa”, artinya entitas Tuhan diakui oleh negara. Sehingga setiap regulasi yang dibuat di Indonesia, tidak boleh bertolak belakangan dengan regulasi Tuhan yang disampaikan melalui rasulnya.

Oleh karena itu sangat penting bagi setiap manusia belajar memperdalam ilmu agama. Sebagaimana dalam buku karangan Nur Kholik Ridwan, tentang ajaran-ajaran Gus Dur yang diurutkan secara sistematis. Dalam urutan pertama dituliskan tentang ketauhidan yang diwujudkan dalam perilaku dan perjuangan sosial, ekonomi, dan kebudayaan dalam menegakkan nilai-nilai kemanusiaan. Karena bagi Gus Dur sendiri, setiap manusia yang sadar akan ketuhanan tentu saja akan menjunjung tinggi nilai kemanusiaan dan kemudian melahirkan rasa keadilan sosial bagi seluruh umat manusia.

Dalam hal ini, kesenjangan sosial merupakan suatu permasalahan yang belum terselesaikan di Indonesia. Kondisi ini merupakan bentuk dari ketidakadilan distribusi berbagai hal yang dinilai penting dalam suatu tatanan masyarakat. Ketidakadilan tersebut tidak hanya dipraktikkan oleh pemerintah pusat, tetapi juga pemerintah kecil seperti di pedesaan. Terlebih lagi dalam hal pengelolaan dana desa semenjak dikucurkan dana desa pada tahun 2015 oleh Presiden Jokowi. Apa yang sudah dilakukan oleh sebagian aparatur desa dengan anggaran ratusan juta selama hampir tujuh (7) tahun ini ? masih ada masyarakat yang menikmati kebodohan karena tidak mendapatkan pendidikan, menjerit kelaparan karena kemiskinan, dan menjalani hidup sambil menunggu kematian.

Tentunya, kondisi seperti ini terjadi karena beberapa faktor. Diantaranya yaitu setiap orang lebih mengutamakan kepentingan pribadi (oportunis), keluarga, kerabat dan kelompok tertentu (berkolusi). Sehingga sebagian orang melakukan perbuatan amoral untuk memenuhi kebutuhan diri sendiri dan orang lain yang mempunyai hubungan emosional dengannya dengan memanfaatkan kesempatan yang ada atau disebut juga dengan korupsi. Menurut Nurdjana (1990) korupsi berasal dari bahasa Yunani yaitu “corruptio” yang berarti perbuatan tidak baik, buruk, curang, dapat disuap, tidak bermoral, menyimpang dari kesucian, melanggar norma-norma agama. Misalnya, dalam praktik susunan aparatur desa, ada kepala desa yang mengutamakan sanak saudara dan kerabatnya untuk menjadi aparatur desa tanpa mengutamakan kualitas dan integritas orang tersebut. Nahas, praktik seperti ini di anggap biasa saja tanpa ada yang berani memprotes. Dalam contoh lain yang dianggap biasa saja seperti siswa yang beli gorengan 2 bayarnya 1.

Dalam sejarah Indonesia, praktik korupsi terbesar terjadi pada masa orde baru dibawah kepemimpinan presiden Suharto. Setelah tumbangnya rezim orde baru, kemudian pada masa reformasi tahun 1999, lahirlah undang-undang nomor 28  tahun 1999 tentang penyelenggaraan negara yang bersih dan bebas dari Korupsi Kolusi Nepotisme (KKN) serta undang-undang nomor 31 tahun 1999. Sebagai ganti dan pelengkap undang-undang nomor 31 tahun 1999, maka dilahirkan undang-undang nomor 1 tahun 2001.

Sebagai tindak lanjut, dikeluarkan undang-undang nomor 30 tahun 2002 tentang komisi pemberantasan tindak pidana korupsi. Hingga tahun 2021, semenjak komisi pemberantas korupsi (KPK) dibentuk sudah memproses lebih dari 1.064 orang dan korporasi atas kasus korupsi. Artinya  begitu banyak praktik amoral yang telah ditemukan oleh KPK.

Maka disini penulis sangat menekankan pentingnya pendidikan agama untuk proses spiritual dan pendidikan formal dan informal untuk proses intelektual dalam melahirkan generasi-generasi yang kreatif, inovatif, bermoral, tidak curang, dan sadar akan kedirian sebagai makhluk sosial. Karena krisisnya moral, membuat seseorang menjadi serigala bagi orang lainnya.

Rakus terhadap kekayaan, matinya kepedulian, akibat tidak seimbangnya pengetahuan spiritual dan intelektual. Pepatah Aceh mengatakan “tajak beut jeut bek ta peungeut gob, tajak sikula jeut bek di pengeut le gob” artinya begitu penting peran agama sebagai sebuah sistem untuk menyadarkan seseorang menjadi yang lebih baik dengan pengalaman-pengalaman spiritual.

Belajar memahami tentang kehidupan dan tata cara berkehidupan. Begitu juga dengan Pendidikan formal dan informal dalam melahirkan para intelektual. Seperti yang pernah dikatakan oleh Pimpinan Dayah Ruhul Falah samahani (Tgk Muhammad Hafidz H.IB) “beut beu malem sikula beu carong, mangat jeut teudong nanggroe makmu meu agama”. Artinya kemakmuran sebuah negeri tergantung pada penduduk negeri. Ketika negeri tersebut di isi oleh orang-orang yang baik dan berkompeten, maka makmurlah negeri tersebut.

Sebagaimana dikatakan oleh Mahatma Gandhi “bumi ini cukup untuk tujuh generasi, namun tidak akan pernah cukup untuk tujuh orang serakah”.
Sangat disayangkan jika hari ini keserakahan elit hanya sekedar dilihat dan dibiarkan begitu saja. Karena Soe Hok Gie mengatakan mendiamkan kesalahan adalah kejahatan.

Inilah saatnya bagi kaum cendikiawan menyadarkan diri dan menyadarkan orang lain. Khususnya bagi mahasiswa dan pemuda yang telah menempuh proses Pendidikan akademik untuk melahirkan nilai-nilai baru dalam mewujudkan kesejahteraan masyarakat. Tidak hanya sekedar dipengucapan, tapi bertindak seperti yang diucapkan. (*)

OLEH : Risky Almustana Imanullah
Mahasiswa Ilmu Politik UIN Ar-Raniry

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here