Home Berita Utama Mengulik Strategi Pemerintahan Islam dimasa Pandemi COVID-19

Mengulik Strategi Pemerintahan Islam dimasa Pandemi COVID-19

247
0
Putri Sarah (Jurusan Ilmu Pemerintahan FISIP USK)*

AdvokasiRakyat.id | COVID-19 merupakan penyakit yang menjadi pandemi di seluruh dunia pada abad ke-21. COVID-19 yang berasal dari virus corona ini pertama kali diidentifikasi pada 31 Desember 2019 di Wuhan, Cina.

Pada tanggal 11 Februari 2020, Komite Internasional tentang Taksonomi Virus (ICTV) mengumumkan virus corona baru dari Wuhan itu bernama Severate Acute Respiratory Syndrome Coronavirus 2 (SARS-CoV-2). Pada 30 Januari 2020, WHO mendeklarasikan status wabah 2019-nCov sebagai Keadaan Darurat Kesehatan Masyarakat dari Kepedulian Internasional (PHEIC) (WHO, 2020).

Pada 11 Maret 2020, WHO dengan resmi menyatakan wabah corona sebagai pandemi. Akibat wabah tersebut dilaporkan lebih dari 6,79 juta kasus COVID-19 di 216 negara yang mengakibatkan lebih dari 397.000 kematian.  Setidaknya, terdapat 186 negara dari 193 negara di dunia yang telah melaporkan kasus ini.

Pandemi seperti COVID-19 tidak hanya terjadi pada masa sekarang. Sejarah Islam pernah mencatat penanganan pandemi di masa Rasulullah dan bagaimana cara mengelola pemerintahan Islam pada saat itu.

Pandemi juga pernah melanda pada masa Nabi Muhammad SAW dan menyebabkan Nabi mengeluarkan kebijakan dalam mengahadapi pandemi pada masa itu. Selain itu, Khalik (2020) mencatat pada masa pemerintahan Khulafaur Rasyidin, hal serupa juga pernah terjadi dan menyebabkan Khalifah Umar bin Khaṭṭāb terpaksa pula mengeluarkan regulasi untuk menghadapi pandemi tersebut.

Sejarah mencatat bahwa kedua pemerintahan tersebut dapat dengan sigap menghadapi pandemi dan bersikap sangat tegas mengatur masyarakat, termasuk mobilitas mereka dari sebuah wilayah ke wilayah  lainnya.  Bahkan lebih  jauh, pemerintahn saat itu mengatur regulasi daerah tertular dan tidak tertular dalam masa pandemi.

Sejarah mencatat, masa awal pemerintahan Islam telah terjadi pandemi sebanyak dua kali, yaitu pada masa Rasulullah dan Khalifah Umar bin Khattab. Khusus pada masa Nabi peristiwa pandemi kala itu terjadi bertepatan di Bulan Ramadhan seperti halnya dialami pada masa sekarang. Kesigapan Nabi dalam mengurai benang kusut pemerintahan  akibat serangan  ṭā’un‛  tergambar  dari beberapa  riwayat  hadis yang mengisahkan regulasi Nabi dalam mengantisipasi pandemi yang terjadi.

Berdasar informasi hadis yang diriwayatkan oleh Imām al-Bukhārī diberlakukan regulasi larangan masuk ke wilayah terdampak pandemi dan sebaliknya tidak keluar  dari wilayah  yang  terserang pandemic (Ashraf et al., 2020). Jadi, pola penanganan pandemi pada masa Nabi telah dilakukan secara maksimal dan profesional dengan menerapkan karantina wilayah seperti yang kita kenal saat ini dengan sebutan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di Indonesia.

Pandemi yang melanda pada masa Nabi sebenarnya tidaklah berhenti hingga  masa Khalifah ‘Umar bin Khaṭṭāb dan masa sesudahnya, bahkan ada indikasi yang menunjukkan  bahwa  pandemi  tersebut  terus  berlansung  dalam  kurun  waktu yang sangat panjang dan serangan paling mematikan dan lebih massif terjadi pada masa kekuasaan kekhalifahan terakhir Islam di Turki.

Pemerintahan Islam setidaknya harus menahan dua pandemi yang terjadi di dunia dengan laju kematian tinggi dalam tiga kurun waktu; pertama black death pada abad keempat, wabah justianus (pes, kolera) pada abad ke enam dan wabah bombay pada abad ke sembilan belas.

Kemampuan pemerintahan Islam dalam mitigasi bencana turut mendukung legitimasi kekuasaan. Rakyat yang terdidik dengan pola hidup sehat berdasarkan ajaran Nabi menciptakan kondisi kondusif. Pola hidup sehat dan bersih baik diri maupun lingkungan membuat rakyat siap menghadapi wabah pandemi.

Meski wabah melanda, pemerintahan Islam seolah tak bergeming menghadapinya. Bahkan ada kecenderungan pemerintahan Islam memiliki kemampuan lebih dalam menaklukkan Negara-Negara yang melemah akibat serangan wabah.

Pemerintahan Islam pada masa awal dan masa ‘Umar bin Khaṭṭāb telah mampu mengelola konflik pandemi menjadi peluang untuk memperkuat legitimasi kekuasaan secara elegan. Faktor posisi Nabi sebagai kepala agama dan kepala pemerintahan menjadi modal dasar mengembangkan potensi kekuasaan pemerintahan.

Pandemi COVID-19 yang terjadi diseluruh dunia berpengaruh terhadap tata kelola pemerintahan di seluruh Negara, khususnya negara Dunia Islam. Salah satu contoh kebijakan pemerintahan Islam dalam masa pandemic COVID-19 diadaptasi oleh negara Arab Saudi.

Arab Saudi telah mengeluarkan kebijakan-kebijakan baik itu luar negeri  maupun kebijakan publik  seperti  melakukan penutupan akses  dalam melakukan ibadah umrah  dan  shalat  berjamaah dimasjid yang rawan akan penyebaran COVID-19, melakukan penutupan  akses internasional negara  tersebut  dari  luar guna mencegah kasus baru untuk keluar dan masuk, melakukan lockdown dan pembatasan aktivitas warga.

Menurut Ramadhan (2020) terdapat beberapa faktor yang mendorong Kerajaan Arab Saudi mengambil kebijakan-kebijakan tersebut  dalam  penanganan penyebaran COVID-19 di negaranya. Faktor pertama adalah  dorongan dari anjuran yang telah  diilakukan oleh World Health Organization (WHO) sebagai Lembaga tata  kelola  kesehatan global yang  telah diakui secara umum dan mempunyai prestasi yang  baik  dalam penanganan penyakit di dunia.

Selain itu, WHO memiliki  peran krusial dalam  setiap penaganan penyakit terutama   penyakit yang  jenis  baru yang menjadi pandemi di seluruh dunia yaitu COVID-19 yang  mana  belum  banyak  diketahui tentang  penyakit  ini. Faktor kedua yang mendorong Arab Saudi  untuk  memberlakukan kebijakan adalah  faktor  kasus-kasus penyebaran COVID-19 yang pernah  terjadi di beberapa negara seperti Korea Selatan, Iran, Singapura, dan Malaysia, berawal dari kegiatan keagamaan dan meluas ke publik.

Melihat dari kebijakan yang dikeluarkan oleh Arab Saudi sebagai negara Islam dan  menggunakan konstitusi Islam sebagai Hukum  negara dalam penaganan  COVID-19. Beberapan kebijakan yang diberlakukan  oleh Arab Saudi ini cukup berani. Namun, kebijakan-kebijakan yang diberlakukan oleh Arab Saudi seperti penutupan akses  ibadah,  lockdown lokal  dan  internasional, ternyata  telah sesuai   dengan  anjuran   Islam.  Hal   ini  di   tunjukkan   dengan beberapa hadist  shahih  yang  mendukung kebijakan  yang  diberlakukan oleh Arab Saudi  sesuai  anjuran syariat Islam.

Alasannya menurut Dirgantara (2020) adalah proses pembuatan kebijakan yang  dilakukan oleh  Arab Saudi  yang  mana  Raja yang mempunyai otoritas  tertinggi  dalam  pembuatan kebijakan  dalam  dan  luar negeri   harus   terlebih   dahulu   berkonsultasi  kepada  dewan   ulama   senior sebagai penasihat Raja untuk  menyeleksi kebijakan  yang  akan  dikeluarkan agar tidak melanggar konstitusi Arab Saudi yang berlandaskan Syariat Islam. Oleh karena itu, tata kelola pemerintahan Arab Saudi dalam menangani COVID-19 dapat dicontoh oleh negara Dunia Islam lainnya, khususnya Indonesia, karena sesuai dengan syariat Islam.

Selain Arab Saudi, negara yang penduduknya mayoritas Islam adalah Turki. Turki merupakan salah satu negara yang terdampak pandemi COVID-19. Turki cepat tanggap dalam menghadapi wabah ini sebelum  kasus  pertama  diketahui. Setelah kasus pertama  diketahui,  penyebaran  virus corona  di  Turki  mencapai  puncaknya  pada minggu keempat. Turki menjadi Negara ke-8 yang memiliki  kasus positif COVID-19 tertinggi. Peningkatan cepat kasus-kasus yang dikonfirmasi tidak membebani sistem layanan kesehatan publik dan angka fatalitas kasus awal masih tetap ada, lebih rendah dibandingkan dengan  banyak negara Eropa.

Sejak berita virus corona baru yang diduga berasal dari Wuhan, China menyebar ke beberapa negara, Turki dengan cepat dan tanggap melakukan pencegahan dengan menerapkan pembatasan mobilisasi warganya ke negara-negara yang telah terkonfirmasi kasus positif COVID-19. Bahkan penerbangan dari negara-negara tersebut telah diberhentikan sementara. Berdasarkan penelitian Alyanak (2020) sejak kasus pertama di Turki terkonfirmasi, pemerintah Turki menerapkan kebijakan batasan berpergian dan berkumpul.

Turki pun mengkhususkan dalam kebijakannya bagi warga dibawah 20 tahun dan diatas 65 tahun untuk dilarang keluar rumah. Kebijakan lockdown diterapkan Turki pada saat akhir pekan. Dalam menangani pandemi COVID-19, tata kelola Turki terbilang baik hingga WHO pun memberikan pujian atas penanganan yang dilakukan pemerintah Turki.

Turki menjamin kesejahteraan warganya ditengah pandemi ini. Kebijakan ekonomi yang dilakukan Turki sangat memerhatikan masyarakat yang lanjut usia. Turki berusaha untuk mengurangi beban warganya yang sedang mengalami kesulitan dalam hal ekonomi. Kebijakan yang diambil untuk dunia pendidikan terbilang cepat, mengganti pembelajaran langsung dengan pembelajaran jarak jauh dilakukan agar menekan angka penyebaran virus.

Turki berhasi menekan angka kematian dan   pasien yang pulih semakin hari semakin meningkat. Proses normalisasi “new normal” mulai dilakukan dan berharap Turki berjalan ke keadaan dimana saat virus corona belum menyebar di Turki.

Pemaparan tata kelola pemerintahan dalam menghadapi pandemi COVID-19 dari dua negara diatas hendaknya menjadi cerminan diri bagi pemerintah Indonesia. Jika pemerintah Indonesia kesulitan beradaptasi, maka pemerintah dapat mencontoh bagiamana negara Dunia Islam menghadapi pandemi COVID-19, mengingat Indonesia adalah negara dengan penduduk Islam terbesar.

Selain itu, Aceh yang menerapkan prinsip syariat Islam di daerahnya harusnya juga menerapkan penanganan pandemi sesuai dengan syariat Islam pula, seperti yang dicontohkan oleh Arab Saudi. Selain itu, pemerintah juga bisa mengambil pelajaran dari pengalaman pandemi yang terjadi di masa Rasulullah dulu sebelum mengambil kebijakan dalam mengelola pemerintahan di masa pandemi ini. Penulis berharap pemerintah Indonesia dapat mengelola pemerintahan dengan baik selama pandemic COVID-19 dan kebijakan yang diambil dapat menuntaskan masalah yang terjadi selama pandemi. (*)

Penulis   : Putri Sarah (Jurusan Ilmu Pemerintahan FISIP USK)
Editor     : Furqan,S.Sos

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here