Home Berita Utama Waspada! Penyerangan terhadap Hukum Islam dibalik RUU KUHP ‘Marital Rape’

Waspada! Penyerangan terhadap Hukum Islam dibalik RUU KUHP ‘Marital Rape’

275
0
Waspada! Penyerangan terhadap Hukum Islam dibalik RUU KUHP 'Marital Rape'. (*)
Oleh : Ucie Siregar 
(Aktivis Gerakan Islam)

AdvokasiRakyat.id | Tak henti-hentinya kaum feminis-sekuler menyerang ajaran Islam termasuk pada sendi terkecil yaitu keluarga. Istilah Marital Rape yang digaungkan kaum feminis-sekuler ini semakin menggema, mereka meminta agar pemerintah mengesahkan RUU KUHP marital rape.

Rancangan Undang-Undang tentang Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (RUU KUHP) mengatur pasal tentang marital rape yaitu tindak pemerkosaan atau rudapaksa yang dilakukan suami terhadap istri, maupun sebaliknya. Aturan itu tercantum dalam pasal 479 ayat 2 poin a RUU KUHP. Dalam pasal tersebut dijelaskan bahwa pelaku pemerkosaan dalam rumah tangga dapat dihukum pidana penjara paling lama 12 tahun.

“Termasuk Tindak Pidana perkosaan dan dipidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi perbuatan (a) persetubuhan dengan seseorang dengan persetujuannya, karena orang tersebut percaya bahwa orang itu merupakan suami/istrinya yang sah,” bunyi pasal pasal 479 ayat 2 poin a RUU KUHP.

Aturan tersebut sebenarnya sudah ada dalam Pasal 53 UU nomor 23 tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (PKDRT). Aturan tentang marital rape, dinilai masih sangat ‘asing’ di masyarakat.

Wakil Ketua Komnas Perempuan Mariana Amiruddin berpendapat, marital rape itu ada dalam kehidupan rumah tangga. Ketidakpahaman masyarakat tentang konsep marital rape terjadi karena dipengaruhi oleh kultur dan hukum perkawinan di Indonesia. Umumnya suami dianggap sebagai pencari nafkah dan istri seseorang yang harus siap melayani suami, termasuk dalam hubungan seksual, ungkapnya. (CNNIndonesia.com, 18/06/2021).

Paham Sekuler-Liberal Merusak Keluarga

Pemaksaan untuk melakukan hubungan seksual antara suami istri tidak tepat disebut sebagai pemerkosaan, karena pemerkosaan itu dilakukan diluar pernikahan. Sedangkan jelas-jelas suami istri merupakan ikatan sah dalam pernikahan. Sehingga suami atau istri yang memaksa pasangannya untuk berhubungan seksual lebih tepat disebut KDRT bukan pemerkosaan.

Kasus KDRT yang demikian marak sebenarnya bukanlah disebabkan karena pengaruh kultur atau hukum perkawinan di Indonesia sebagaimana yang diungkapkan oleh Wakil Komnas perempuan, ibu Mariana tersebut. Bukan itu. Namun tidak lain disebabkan karena paham sekuler-liberal yang diadopsi oleh negara, masyarakat termasuk didalamnya keluarga.

Landasan hukum dan perundang-undangan yang diterapkan oleh negara hari ini tidak terlepas dari paradigma sekuler-liberal baik dalam mengatur hubungan pergaulan sosial masyarakat, pendidikan, ekonomi, politik dan pemerintahan. Semuanya saling berkelindan.

Parahnya negara sebagai penanggung jawab dan pelindung masyarakat menerapkan hukum sekuler yang telah menghasilkan berbagai kerusakan disetiap lini kehidupan. Ekonomi yang kapitalistik, pergaulan sosial yang hedonis, media yang merusak, pendidikan yang liberal sampai pemerintahan yang korup semuanya telah mempengaruhi kehidupan masyarakat termasuk keluarga.

Paham sekuler-liberal yang telah bersemayam dibenak masyarakat telah menjadikan mereka semakin jauh dari ajaran agama tatkala bertingkah laku dengan pasangan. Hubungan suami istri tidak dipandang sebagai hubungan yang sakral dan penuh persahabatan, namun lebih pada hubungan atasan dan bawahan atau mitra kerja, yang saling bersaing. Siapa yang kuat dia menang. Sementara yang lemah harus menerima kekalahannya karena semuanya diukur dari materi.

Tidak terkecuali dalam rumah tangga, pemicu kasus KDRT seringkali terjadi akibat himpitan ekonomi dan keuangan yang menimpa suami dan istri. Karena penerapan sistem ekonomi kapitalistik tadi menyebabkan para suami sulit mendapatkan pekerjaan yang layak lagi halal. Stresnya suami karena tidak mampu bertanggung jawab pada keluarganya membuat konflik keluarga terjadi. Belum lagi istri yang banyak menuntut secara materi telah menambah kemelut dalam hubungan. Ditambah lagi paradigma kebahagiaan dalam berkeluarga adalah dengan terpenuhinya segala yang diinginkan (materi sebanyak-banyaknya). Faktor ini juga yang memicu suami atau istri memandang pasangan rendah, diremehkan dan dianggap tidak berharga.

Harusnya kaum feminis-sekuler bercermin, pemberlakuan sistem sekuler liberal lah yang membuat kasus KDRT kian melonjak, bukan justru menyerang hukum perkawinan dalam Islam.

Namun, sudah alamiahnya antara haq dan bathil senantiasa bertarung. Musuh-musuh Islam yang tidak menyenangi hukum Islam tentu akan terus berupaya menggaungkan nilai-nilai liberal pada masyarakat terutama keluarga Muslim. Mereka memandang hukum perkawinan dalam Islam sebagai penghambat kebebasan dan tidak pro terhadap perlindungan hak-hak perempuan. Tanpa berkaca ajaran sekuler-liberal yang digaungkan inilah yang menjadi biang keladi.

Saatnya Merujuk Pada Islam Kaffah

KDRT niscaya terjadi karena dalam mengarungi mahligai rumah tangga tidak menjadikan Islam sebagai landasan, peraturan dan tujuannya dalam berkeluarga.

Keluarga, masyarakat bahkan negara harus menyadari segala lini kehidupan telah dirusak oleh penerapan hukum buatan manusia yang sekuler-liberal. Budaya lempar batu sembunyi tangan yang dilakukan oleh musuh Islam saat menyebarkan paham sekuler-liberal nya yang merusak harus segera disadari oleh semua kalangan yang menginginkan negeri ini hidup dalam ketenangan dan kedamaian.

Resapilah ayat-ayat Allah SWT yang Maha Agung ini :

هُوَ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَّفْسٍ وَّاحِدَةٍ وَّجَعَلَ مِنْهَا زَوْجَهَا لِيَسْكُنَ اِلَيْهَاۚ فَلَمَّا تَغَشّٰىهَا حَمَلَتْ حَمْلًا خَفِيْفًا فَمَرَّتْ بِهٖ ۚفَلَمَّآ اَثْقَلَتْ دَّعَوَا اللّٰهَ رَبَّهُمَا لَىِٕنْ اٰتَيْتَنَا صَالِحًا لَّنَكُوْنَنَّ مِنَ الشّٰكِرِيْنَ

Dialah yang menciptakan kamu dari jiwa yang satu (Adam) dan daripadanya Dia menciptakan pasangannya, agar dia merasa senang kepadanya. Maka setelah dicampurinya, (istrinya) mengandung kandungan yang ringan, dan teruslah dia merasa ringan (beberapa waktu). Kemudian ketika dia merasa berat, keduanya (suami istri) bermohon kepada Allah, Tuhan Mereka (seraya berkata), “Jika Engkau memberi kami anak yang saleh, tentulah kami akan selalu bersyukur.” (Al-A’raf Ayat 189).

Begitupun dalam Firman-Nya :

وَمِنْ اٰيٰتِهٖٓ اَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِّنْ اَنْفُسِكُمْ اَزْوَاجًا لِّتَسْكُنُوْٓا اِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَّوَدَّةً وَّرَحْمَةً ۗاِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰيٰتٍ لِّقَوْمٍ يَّتَفَكَّرُوْنَ

Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir. (QS. Ar-Rum Ayat 21).

Walhasil, mari pahami dan perjuangkan Islam. Merujuklah pada sistem Islam, pelajarilah Islam dengan benar, jangan setengah-setengah apalagi menyerang hukum-hukumnya dengan tuduhan-tuduhan yang tidak berdasar dan terkesan asalan. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here