Home Agama Penista Agama Dipelihara dalam Sistem Demokrasi?

Penista Agama Dipelihara dalam Sistem Demokrasi?

208
0
Ucie Siregar.(*)

AdvokasiRakyat.id | Penistaan agama kembali berulang. Bukan karena khilaf, namun memang dilakukan dengan penuh kesadaran.

Kesengajaan yang dipertontonkan secara massal. Ya, seorang youtuber bernama M.Kece telah membuat kegaduhan dikalangan Muslim khususnya. Dengan liarnya mulutnya melontarkan fitnah keji terhadap Rasulullah Saw dan ajaran Islam.

Dia menyebut, kitab kuning yang diajarkan di pondok pesantren menyesatkan dan menimbulkan paham radikal. Selain itu dia juga menyebut Nabi Muhammad SAW dekat dengan jin. “Muhammad ini dekat dengan jin, Muhammad ini dikerumuni jin, Muhammad ini tidak ada ayatnya dekat dengan Allah,” kata Muhammad Kece dalam tayangan di akun YouTubenya. (Inews.id, 22/08/2021).

Tidak hanya itu dengan lancangnya dia mengganti kata Allah menjadi Yesus dalam kalimat salam yang dibacakannya. “Assalamualaikum warrahmatuyesus wabarakatuh” dan mengubah kalimat Alhamdulillah menjadi Alhamduyesus. (Suara.com, 22/08/2021).

Penistaan Agama Tumbuh Subur dalam Demokrasi

Sistem demokrasi telah menyuburkan para penista agama di negeri ini. Ini terjadi bukan satu, dua kasus saja, sudah tidak terhitung jumlahnya. Baik dari kalangan pejabat, seniman, intelektual sampai kalangan youtuber pernah menjadi tersangka. Sudah bersifat sistemik bukan lagi kasuistik, karena terus berulang. Menjadi bukti bahwa hukuman atau sangsi dalam sistem demokrasi tidak memberikan efek jera dan mencegah kasus berulang.

Berbicara demokrasi bukan sekadar bicara teknis, namun mencakup ide kehidupan. Sekuler-liberal menjadi asas sistem demokrasi ini berdiri. Sekulerisme telah berhasil mencampakkan agama dalam mengatur kehidupan sedangkan liberalisme telah melahirkan manusia-manusia memiliki mindset liberal, bebas semaunya dan kebablasan.

Diantara pilar demokrasi adalah kebebasan berpendapat. Kebebasan berpendapat ini telah menjadikan setiap individu berlindung dibawah ide sesat yang bernama hak asasi manusia. Atas nama hak asasi manusia (HAM) dan kebebasan berpendapat seorang bisa berpendapat semaunya, karena dijamin dan dilindungi dibawah payung hukum demokrasi.

Diluar negeri, seperti di Perancis misalnya, negara yang juga menganut sistem demokrasi, presiden Perancis Macron pernah membela seorang guru Samuel Paty yang menggunakan kartun terbitan Charlie Hebdo tahun 2015 saat mengajar, kartun ini dinilai telah menista Rasulullah Saw dan ajaran Islam. Tindakan ini menuai protes dari komunitas dan Paty terbunuh dengan kepala dipenggal. Namun, Presiden Emmanuel Macron menilai kartun atau karikatur Nabi Muhammad di Charlie Hebdo sebagai kebebasan berpendapat. Dia juga mengatakan Islam adalah agama yang sedang mengalami krisis dengan posisi muslim makin sulit.

Oleh karena itu tumbuh suburnya penista agama bukan sekadar rusaknya mindset yang ada dibenak seseorang yang liberal, namun yang lebih besar pengaruhnya dari itu semua adalah akibat dari sistem yang diadopsi oleh negara yaitu sistem demokrasi itu sendiri.

Maka sudah seharusnya sistem demokrasi dan segala derivatnya harus dicampakkan dari kehidupan. Sistem ini telah gagal melindungi kehormatan agama. UU larangan penodaan agama tidak bisa mencegah berulangnya kasus penista. Kita hanya bisa mengurut dada terkait hukuman bagi penista agama yang tidak setimpal dengan perbuatannya. Penista agama M. Kece hanya dijerat hukuman 6 tahun penjara, sesuai Pasal 28 ayat (2) dan junto Pasal 45 a ayat (2) dapat juga dijerat dengan peraturan lainnya yang relevan yakni Pasal 156 a KUHP tentang Penodaan Agama”, kata Brigadir Jenderal Rusdi Hartono, kepala Biro Penerangan Masyarakat Polri.

Begitulah UU dan hukuman dalam sistem demokrasi. Sistem yang lahir dari akal manusia, yang tidak memberikan efek jera dan mencegah berulangnya kasus.

Sudah saatnya sistem ini kita buang ke tong sampah peradaban. Karena hanya menumbuhsuburkan segala macam penistaan, lagi dan lagi.

Sistem Islam, Solusi

Hati Muslim mana yang tidak panas, mendengar agamanya dihina? Pikiran Muslim mana yang tidak marah mendengar Rasulullah Saw dinista? Sebagai seorang Muslim tentunya marah dan panas hatinya menyaksikan ajaran Islam dan kekasih Allah SWT, Muhammad Saw dinodai. Benarlah ungkapan Hamka yang menyatakan “Jika Diam Agamamu Dihina, Gantilah Bajumu dengan kain kafan”.

Namun, hal yang tidak kalah penting disadari oleh setiap Muslim adalah harusnya tidak lagi mau mempertahankan sistem demokrasi yang terbukti gagal melindungi agama dan kehormatannya. Muslim harus menyadari kesalahan besar demokrasi telah menafikan aturan Allah SWT dalam mengatur kehidupan manusia, mencampakkan syariat Islam dan menjauhkannya dari keberkahan hidup dunia dan akhiratnya.

Setiap Muslim harus berani melawan segala bentuk kemungkaran yang dilahirkan dari sistem rusak demokrasi yang sistemik. Merusak individu, masyarakat bahkan merusak tatanan kehidupan dunia.

Setiap Muslim harus kembali pada identitasnya sebagai umat yang terbaik yang menjadi pemimpin umat lainnya, berjuang dengan mengerahkan segenap jiwa dan raganya menegakkan sistem Islam (Khilafah) karena hanya dengan sistem Islam segala bentuk penistaan agama bisa tercegah bahkan nyaris tak terjadi karena kemampuan sistem sangsi dalam Islam yang bersifat penebus dan pencegah.

Pelaku penista agama yang terang-terangan menista agama akan dihukum tegas, mereka akan dihukum mati di dalam sistem Islam.

Dengan penerapan sistem Islam, InsyaAllah tidak akan ada lagi orang yang berani menista Rasulullah Saw dan ajaran Islam yang dibawanya. Lebih dari itu, agama dan ajaran agama lainpun akan dilindungi oleh sistem Islam dengan aturan Islam yang sempurna.

Allah SWT berfirman:

وَالَّذِينَ يُؤْذُونَ رَسُولَ اللَّهِ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

Orang-orang yang menyakiti Rasulullah itu, bagi mereka azab yang pedih (TQS at-Taubah [9]: 61).

Allah SWT juga berfirman:

إِنَّ الَّذِينَ يُؤْذُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ لَعَنَهُمُ اللَّهُ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَأَعَدَّ لَهُمْ عَذَابًا مُهِينًا

Sungguh orang-orang yang menyakiti Allah dan Rasul-Nya, Allah melaknati mereka di dunia dan di akhirat serta menyediakan bagi mereka siksaan yang menghinakan (TQS al-Ahzab [33]: 57).

Penulis : Ucie Siregar (Aktivis Gerakan Islam)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here